Masyarakat Jazirah Arab sangat menjunjung tinggi budaya hafalan. Kemampuan mereka dalam hal ini sangat mengagumkan sampai-sampai “kalbu mereka adalah bagaikan lembaran kertas (buku),” demikian Ka’ab al-Ahbar mengilustrasikannya. Di kalangan mereka, seseorang yang memiliki kemampuan menghafal yang baik akan diposisikan mulia.
Karena budaya hafalan ini, lalu ditambah dengan sulit alat tulis menulis, budaya menulis dan membaca tidak mendominasi. Bagi beberapa kalangan, memiliki skill menulis dan membaca malah dianggap sebagai sebuah kekurangan, bahkan aib.
Langit Keempat…
Kemudian, tampaklah (di hadapan Nabi saw) suatu “tempat naik” yang melaluinyalah ruh-ruh keturunan Adam (yang beriman) naik (ke surga). Tidak ada seorang makhlukpun yang pernah melihat suatu tempat naik yang lebih indah dari “tempat naik” ini. Pijakan antar tingkatnya terbuat dari emas dan perak (Jumlah pijakan antar tingkatnya adalah sepuluh. Tujuh pijakan antar tingkat mengarah ke tujuh langit, pijakan antar tingkat yang kedelapan mengarah ke sidratul muntahaa, pijakan antar tingkat yang kesembilan mengarah ke
Nabi SAW pun (kembali) melaju hingga tibalah beliau di Kompleks Bait al-Maqdis. Beliau masuk ke kompleks itu dari gerbang Yamani, lalu turun dari buraaq, dan mengikat tunggangannya itu di pintu mesjid, di sebuah tiang di mana para nabi (semoga shalawat dan salam tercurah atas mereka) biasa mengikatnya.
Lintasan Malang-Blitar.
Akhirnya, edisi pengalihahasaan kitab suci berjudul “al-Qur’an dan Maknanya,” karya Prof DR Quraish Shihab, itupun terbit dan beredar di pasaran. Saya adalah adalah satu di antara sekian banyak orang yang menanti peluncurannya dengan tidak sabar. Dorongan untuk segera membeli dan memiliki edisi al-Qur’an itu begitu kuat.
Benci? Oh kawan, benda itu sudah lama tak lagi kumiliki. Tak ada ruang untuk menyimpannya. Ia hanya selembar pakaian robek, berlumur kotoran, dan teronggok di sudut malam. Mengenakannya hanya akan membuatku hina, bahkan di hadapan diriku sendiri.
Inilah kisahnya: seekor rusa (sekali lagi: seekor!), dengan tanduk menjulang ke langitnya itu, maju ke medan tanding menghadapi sekelompok gajah yang kini berbaris rapi, dengan gading-gading tajam yang sudah terasah.
“Kenapa gak naik pesawat aja sih? Mahal sedikit, tapi cepat dan tidak capek ketimbang nyetir sendiri!..”, ujar NL, kakak tertua saya. Saran yang agak memaksa itu disampaikannya setelah mendengar rencana keberangkatan saya ke Solo (Surakarta), Jawa Tengah, untuk mengunjungi keluarga istri.
Osama Bin Laden, siapakah dia sebenarnya? Sejak namanya disebut oleh Amerika Serikat sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas tragedi World Trade Center (WTC), sosoknya masih saja misterius bagi saya. Bagaimanapun cara negeri adidaya itu dalam meyakinkan dunia atas tuduhannya, kepercayaan sulit sekali tumbuh. Catatan kisah skandal demi skandal yang dilakukan Sang Paman Sam di berbagai negara, terutama di Timur Tengah, sudah terlalu banyak. Korban-korban sipil yang berjatuhan akibat petualangan militer negara adidaya itu di berbagai negeri yang memiliki kekayaan minyak bumi sudah tidak terhitung.
Ya, semuanya memang sudah berubah…
Trak!, trek!, trak!, trek!… Sudah satu minggu ini suara itu selalu terdengar di rumah saya, paling tidak selepas maghrib dan menjelang tengah malam. Suara itu berasal dari tabrakan antara raket elektrik yang dikibaskan oleh saya, istri saya, atau Azky, anak pertama saya, dengan nyamuk-nyamuk yang beterbangan gesit di setiap ruang.
Ya, semuanya memang sudah berubah…
(Selanjutnya), bertolaklah Jibril (Mikail, dan Nabi SAW) dengan berkendaraan buraaq itu. Ia berada di sebelah kanan hewan itu dan Mikail di sebelah kirinya. Menurut Ibn Sa’ad, Jibril menjadi pengarah (laju) buuraq dan Mikail (menjadi pemegang) tali kekangnya.
(Dalam perjalanan itu), saat Nabi SAW melaju di atas buraaq, tiba-tiba beliau melihat jin ‘Ifrit yang sedang mengejarnya sambil membawa seobor api. Setiap kali menoleh (ke belakang), maka beliau melihatnya. Jibril pun berkata kepada beliau: “Apakah tidak (sebaiknya) kuajarkan kepadamu beberapa kalimat yang dapat engkau ucapkan. Jika engkau (telah) mengucapkannya, maka padamlah obornya itu dan jatuh tersungkurlah dia?” Rasulullah SAW menjawab: “Ya, (ajarkanlah!)” Lalu, Jibril pun berkata: “Ucapkanlah olehmu:
Kemudian, Nabi SAW bertemu dengan sekelompok orang yang kepala-kepalanya sedang dihantami (dengan batu). Setiap kali (kepala-kepala mereka itu) hancur, (kepala-kepala itu) kembali (sembuh) seperti sedia kala. Tidak ada sesuatupun yang dapat menghindarkan mereka dari hal itu. Nabi SAW pun bertanya: “Hai Jibril, siapakah mereka semua?” Jibril menjawab: “Mereka semua adalah (orang-orang) yang kepala-kepalanya berat sekali (untuk bersujud) dengan mendirikan shalat wajib.”
(Dalam perjalanan itu), pada saat Nabi SAW sedang melaju, tiba-tiba, ada seseorang memanggil-manggilnya dari arah kanan: “Hai Muhammad, lihatlah aku, kumohon!…” Beliau tidak menjawab panggilan itu. Lalu, beliaupun bertanya: “Apakah (gerangan yang memanggil-manggilku) ini, ya Jibril?” Jibril menjawab: “Ini adalah (panggilan) seorang misionaris Yahudi. Adapun engkau, jika menjawab (panggilan)nya, maka umatmu akan menjadi umat yahudi.”





KOMENTAR TERBARU