Budaya Hafalan dan Arti Ummi

Masyarakat Jazirah Arab sangat menjunjung tinggi budaya hafalan. Kemampuan mereka dalam hal ini sangat mengagumkan sampai-sampai “kalbu mereka adalah bagaikan lembaran kertas (buku),” demikian Ka’ab al-Ahbar mengilustrasikannya. Di kalangan mereka, seseorang yang memiliki kemampuan menghafal yang baik akan diposisikan mulia.

Karena budaya hafalan ini, lalu ditambah dengan sulit alat tulis menulis, budaya menulis dan membaca tidak mendominasi. Bagi beberapa kalangan, memiliki skill menulis dan membaca malah dianggap sebagai sebuah kekurangan, bahkan aib.

Continue reading ‘Budaya Hafalan dan Arti Ummi’

Aktifitas Perdagangan

Perekonomian masyarakat Mekkah sangat mengandalkan perdagangan, terutama ke Syam di musim panas dan ke Yaman di musim dingin. Dalam surat Quraisy, al-Qur’an mengabadikan dan memuji aktifitas ekonomi mereka ini.

Adalah Hasyim, kakek Nabi saw, yang pertama kali menggagas perjalanan-perjalanan dagang itu, lalu disusul oleh Abdus Syam, al-Muththalib, dan Naufal. Dengan keempat orang itu sebagai pelopornya, wajah perekonomian Mekkah pun berubah sehingga kesejahteraan masyarakat meningkat.

Continue reading ‘Aktifitas Perdagangan’

Watak Dasar Masyarakat Mekkah

Ada begitu banyak akhlaq buruk yang dipraktekkan oleh masyarakat Mekkah sebelum datangnya Islam. Namun, seburuk-buruknya suatu bangsa, ada saja sisi-sisi positif yang mereka miliki. Kedermawanan, persahabatan, kelapangan dada, keberanian, harga diri sehingga siap menanggung resiko dan memikul tanggung jawab, pembelaan kaum lemah, memaafkan (dalam keadaan mampu membalas), tabah, dan terbuka adalah diantara akhlaq baik yang masih mereka miliki itu.

Continue reading ‘Watak Dasar Masyarakat Mekkah’

Suatu Malam di Bulan Rajab (Bagian 09)

100Langit Keempat…

Selanjutnya, Nabi saw pun naik ke langit keempat (yang terbuat dari tembaga). Jibril meminta dibukanya (gerbang ke langit itu). Ia pun ditanya (oleh salah seorang malaikat penjaga): “Siapa ini?” Jibril menjawab: “Aku Jibril.” Ia ditanya kembali: “Siapa (yang turut serta) bersamamu itu?” Jibril menjawab: “Dia Muhammad.” Ia ditanya lagi (oleh sebuah suara lain): “Betulkah dia (Jibril) telah diutus (menjemputnya)?”Jibril menjawab: “Ya!.” Lalu, terdengarlah serangkaian ucapan: “Selamat datang! Selamat datang untuknya (Muhammad). Semoga Allah memuliakan, mengagungkan, dan memanjangkan hidupnya sebagai saudara (seiman) dan sebagai wakil Allah (dalam menyampaikan hukum-hukum-Nya). Sebaik-baik saudara dan sebaik-baik wakil Allah telah datang (berkunjung)!” Maka, dibukakanlah (gerbang langit keempat) untuk mereka berdua.

Continue reading ‘Suatu Malam di Bulan Rajab (Bagian 09)’

Suatu Malam di Bulan Rajab (Bagian 07)

miraj50Kemudian, tampaklah (di hadapan Nabi saw) suatu “tempat naik” yang melaluinyalah ruh-ruh keturunan Adam (yang beriman) naik (ke surga). Tidak ada seorang makhlukpun yang pernah melihat suatu tempat naik yang lebih indah dari “tempat naik” ini. Pijakan antar tingkatnya terbuat dari emas dan perak (Jumlah pijakan antar tingkatnya adalah sepuluh. Tujuh pijakan antar tingkat mengarah ke tujuh langit, pijakan antar tingkat yang kedelapan mengarah ke sidratul muntahaa, pijakan antar tingkat yang kesembilan mengarah ke tempat pencatatan amal manusia, dan pijakan antar tingkat yang kesepuluh mengarah ke ‘Asry, wallaahu a’lam). Pijakan antar tingkat ini berasal dari Surga Firdaus, penuh berhiaskan mutiara. Di sebelah kiri dan kanannya ada para maikat (yang menjaga).

Continue reading ‘Suatu Malam di Bulan Rajab (Bagian 07)’

Suatu Malam di Bulan Rajab (Bagian 06)

isra12Nabi SAW pun (kembali) melaju hingga tibalah beliau di Kompleks Bait al-Maqdis. Beliau masuk ke kompleks itu dari gerbang Yamani, lalu turun dari buraaq, dan mengikat tunggangannya itu di pintu mesjid, di sebuah tiang di mana para nabi (semoga shalawat dan salam tercurah atas mereka) biasa mengikatnya.

Dalam sebuah riwayat (disebutkan bahwa) Jibril mendekati sebuah batu, meletakkan jarinya di sana, lalu mengikat kuat sang buraaq. Kemudian, ia pun masuk ke dalam mesjid dari arah condongnya matahari dan bulan (arah timur). Lalu, Nabi SAW dan Jibrilpun shalat (tahiyyatul masjid) masing-masing dua rakaat.

Continue reading ‘Suatu Malam di Bulan Rajab (Bagian 06)’

Perjalanan Menembus Waktu (28)

128

Lintasan Lumajang-Malang.
Jum’at, 29 Februari 2009, Pukul 06.00 WIB.

Deretan WC dan kamar mandi di SPBU ini lumayan bersih. Sebagian dari kami langsung mengambil air wuhdu, bergantian, lalu menunaikan shalat subhuh di mushalla yang berada di sebelah kanannya. Sebagian lain memilih membersihkan diri terlebih dahulu, mandi. Somad, misalnya, turun dari mobil sambil menenteng kantong plastik berisi sabun, sikat, pasta gigi, dan perlengkapan mandi lainnya.

Continue reading ‘Perjalanan Menembus Waktu (28)’

Perjalanan Menembus Waktu (29)

127Lintasan Malang-Blitar.
Jum’at, 29 Februari 2009, Pukul 10.30 WIB.

Acara sarapan pagi tuntas. Rombongan kembali meluncur dengan perut-perut yang sudah terisi kembali. Perjalanan masih sangat jauh. Dari Malang sini, kami masih harus meluncur ke Blitar, Tulungagung, Ponorogo, Pacitan, Wonosari, baru masuk ke Yogyakarta.

Continue reading ‘Perjalanan Menembus Waktu (29)’

Al-Qur’an dan Maknanya (Prof Dr M. Quraish Shihab)

Akhirnya, edisi pengalihahasaan kitab suci berjudul “al-Qur’an dan Maknanya,” karya Prof DR Quraish Shihab, itupun terbit dan beredar di pasaran. Saya adalah adalah satu di antara sekian banyak orang yang menanti peluncurannya dengan tidak sabar. Dorongan untuk segera membeli dan memiliki edisi al-Qur’an itu begitu kuat.

Tiga hari setelah informasi peluncurannya diterima, saya pun berangkat ke salah satu toko buku Gramedia dan membelinya. Saya bayar ke kasir, lalu tinggalkan toko buku itu dengan perasaan sangat senang. Seingat saya, belum pernah saya merasakan suasana hati sesenang itu setelah membeli sebuah produk cetakan.

Continue reading ‘Al-Qur’an dan Maknanya (Prof Dr M. Quraish Shihab)’

Di Bawah Sebatang Nyiur

Benci? Oh kawan, benda itu sudah lama tak lagi kumiliki. Tak ada ruang untuk menyimpannya. Ia hanya selembar pakaian robek, berlumur kotoran, dan teronggok di sudut malam. Mengenakannya hanya akan membuatku hina, bahkan di hadapan diriku sendiri.

Kita sering duduk bersama di sana, di pantai itu, di bawah sebatang nyiur yang masih rela menyisakan sedikit keteduhan di balik bayang dedaunannya. Kadang kupinta engkau menatap ke sana, ke garis ufuk yang tertutup oleh temaram senja, mencari setitik bahtera pembawa harapan yang, nyaris, tak terlihat.

Continue reading ‘Di Bawah Sebatang Nyiur’

Tentang Rusa dan Gajah

Inilah kisahnya: seekor rusa (sekali lagi: seekor!), dengan tanduk menjulang ke langitnya itu, maju ke medan tanding menghadapi sekelompok gajah yang kini berbaris rapi, dengan gading-gading tajam yang sudah terasah.

Ada mata air di ujung padang sana. Airnya jernih. Kemarau seringkali mengeringkannya. Apalagi sekarang ini, ketika mentari tidak lagi dapat diandalkan sebagai tumpuan. Ia malah turut ambil bagian dalam perang tanding yang terjadi di tengah padang itu, perang tanding antara seekor rusa dengan sekelompok gajah.

Continue reading ‘Tentang Rusa dan Gajah’

Naik Pesawat? Kapan-Kapanlah…

“Kenapa gak naik pesawat aja sih? Mahal sedikit, tapi cepat dan tidak capek ketimbang nyetir sendiri!..”, ujar NL, kakak tertua saya. Saran yang agak memaksa itu disampaikannya setelah mendengar rencana keberangkatan saya ke Solo (Surakarta), Jawa Tengah, untuk mengunjungi keluarga istri.

Entah sudah berapa kali saran senada disampaikannya. Dan, seperti biasa, saya hanya menganggukkan kepala. Di satu sisi, saya harus membenarkan ucapannya. Namun, di sisi lain saya enggan mengikuti sarannya itu.

Continue reading ‘Naik Pesawat? Kapan-Kapanlah…’

Osama Bin Laden

Osama Bin Laden, siapakah dia sebenarnya? Sejak namanya disebut oleh Amerika Serikat sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas tragedi World Trade Center (WTC), sosoknya masih saja misterius bagi saya. Bagaimanapun cara negeri adidaya itu dalam meyakinkan dunia atas tuduhannya, kepercayaan sulit sekali tumbuh. Catatan kisah skandal demi skandal yang dilakukan Sang Paman Sam di berbagai negara, terutama di Timur Tengah, sudah terlalu banyak. Korban-korban sipil yang berjatuhan akibat petualangan militer negara adidaya itu di berbagai negeri yang memiliki kekayaan minyak bumi sudah tidak terhitung.

Continue reading ‘Osama Bin Laden’

Dalam Lipatan Waktu (1)

menjelang-senja

Ya, semuanya memang sudah berubah…

Kamu ingat?
Saat senja, kita sering duduk bersama di pematang kebun ketela itu. Mata kita menatap ke sana, ke birunya langit, menyaksikan parade hening ribuan kalong besar yang entah kembali dari mana. Kita sering berkhayal: terbang bersama mereka mengarungi luasnya angkasa. Alangkah leganya bukan?

Continue reading ‘Dalam Lipatan Waktu (1)’

Dalam Lipatan Waktu (2)

img_1146Ya, semuanya memang sudah berubah…

Kamu ingat?

Batu cadas melebar di tepi Sungai Ciliwung itu sering menjadi tempat kita duduk dan berkumpul sepulang sekolah. Mata kita menatap tajam ke arah hulu, ke bagian terdalam dan terluasnya, mengawasi.

Anak-anak kampung seberang itu, berloncatan ke jernihnya air dengan dada-dada telanjang. Mereka menyelam, lalu menghilang sesaat di kedalamannya.

Continue reading ‘Dalam Lipatan Waktu (2)’

Trak!, trek!, trak!, trek!…

mosquitoracketTrak!, trek!, trak!, trek!… Sudah satu minggu ini suara itu selalu terdengar di rumah saya, paling tidak selepas maghrib dan menjelang tengah malam. Suara itu berasal dari tabrakan antara raket elektrik yang dikibaskan oleh saya, istri saya, atau Azky, anak pertama saya, dengan nyamuk-nyamuk yang beterbangan gesit di setiap ruang.

Populasi hewan mungil pencecap darah itu memang meningkat sekali satu bulan terakhir ini. Tidur kami, dan mungkin juga tidur para tetangga kami, selalu saja terganggu oleh rasa gatal saat moncong-moncong “panjang” mereka menusuk dan menembus kulit. Di sekujur tubuh Dhiya, anak kedua saya yang baru berumur 2 tahun, sering muncul bentol-bentol memerah bekas gigitan.

Continue reading ‘Trak!, trek!, trak!, trek!…’

Dalam Lipatan Waktu (3)

5730000542_ca1ba50454Ya, semuanya memang sudah berubah…

Kamu ingat? Tak ada kepadatan orang di kampung kita ini, Bantarkemang, juga di sekelilingnya. Ke manapun pandangan disapukan, yang tampak adalah kotak-kotak persawahan warga, rimbunan batang-batang singkong, atau jejeran pepohonan pepaya.

Continue reading ‘Dalam Lipatan Waktu (3)’

Suatu Malam di Bulan Rajab (Bagian 01)

gambarawanmiripmalaikatresize

Dengan Nama Allah, Pemberi Kasih Yang Maha Pengasih… (Malam itu), saat Nabi SAW berada di Hijir Ismail, Baitullah, berbaring-miring (dalam keadaan sadar dan tidak) di antara dua pria (yaitu Hamzah dan Ja’far Bin Abi Thalib), datanglah Jibril dan Mikail. Bersama keduanya, turut seorang malaikat lain (yaitu Israfil). Para malaikat itu membopong (diam-diam tubuh) beliau ke (dekat) sumur Zamzam, lalu merebahkannya (dengan perlahan dalam posisi) telentang. Selanjutnya, Jibril pun memimpin mereka (melakukan beberapa hal) atas beliau.

Continue reading ‘Suatu Malam di Bulan Rajab (Bagian 01)’

Suatu Malam di Bulan Rajab (Bagian 02)

buraq(Selanjutnya), bertolaklah Jibril (Mikail, dan Nabi SAW) dengan berkendaraan buraaq itu. Ia berada di sebelah kanan hewan itu dan Mikail di sebelah kirinya. Menurut Ibn Sa’ad, Jibril menjadi pengarah (laju) buuraq dan Mikail (menjadi pemegang) tali kekangnya.

Mereka pun melaju hingga tiba di sebuah daerah (subur) yang ditumbuhi banyak pohon kurma. Jibril pun berkata kepada Nabi SAW: “Turunlah engkau dan shalatlah (dua rakaat) di sini.” Beliau pun menjalankan (perintah Jibril), lalu naik (kembali ke atas buraaq). Jibril bertanya kepada beliau: “Tahukah engkau di mana tadi mendirikan shalat?,” Beliau menjawab: “Tidak.” Jibril pun berkata: “Engkau mendirikan shalat di (kota) Thayyibah (al-madiinah al-munawwarah). Ke kota itulah hijrah (akan terjadi kelak).”

Continue reading ‘Suatu Malam di Bulan Rajab (Bagian 02)’

Suatu Malam di Bulan Rajab (Bagian 03)

isra06(Dalam perjalanan itu), saat Nabi SAW melaju di atas buraaq, tiba-tiba beliau melihat jin ‘Ifrit yang sedang mengejarnya sambil membawa seobor api. Setiap kali menoleh (ke belakang), maka beliau melihatnya. Jibril pun berkata kepada beliau: “Apakah tidak (sebaiknya) kuajarkan kepadamu beberapa kalimat yang dapat engkau ucapkan. Jika engkau (telah) mengucapkannya, maka padamlah obornya itu dan jatuh tersungkurlah dia?” Rasulullah SAW menjawab: “Ya, (ajarkanlah!)” Lalu, Jibril pun berkata: “Ucapkanlah olehmu:

أَعُوْذُ بِوَجْهِ اللهِ الْكَرِيْمِ وَبِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ، الَّتِي لاَيُجَاوِزُهُنَّ بَرٌّ وَلاَفَاجِرٌ، مِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَآءِ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيْهَا، وَمِنْ شَرِّ مَا ذَرَأَ فىِ الْأَرْضِ وَمِن شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا، وَمِنْ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَمِنْ طَوَارِقِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِلاَّطَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ، يَارَحْمَنُ.

Continue reading ‘Suatu Malam di Bulan Rajab (Bagian 03)’

Suatu Malam di Bulan Rajab (Bagian 04)

siksaan-nerakaKemudian, Nabi SAW bertemu dengan sekelompok orang yang kepala-kepalanya sedang dihantami (dengan batu). Setiap kali (kepala-kepala mereka itu) hancur, (kepala-kepala itu) kembali (sembuh) seperti sedia kala. Tidak ada sesuatupun yang dapat menghindarkan mereka dari hal itu. Nabi SAW pun bertanya: “Hai Jibril, siapakah mereka semua?” Jibril menjawab: “Mereka semua adalah (orang-orang) yang kepala-kepalanya berat sekali (untuk bersujud) dengan mendirikan shalat wajib.”

Continue reading ‘Suatu Malam di Bulan Rajab (Bagian 04)’

Suatu Malam di Bulan Rajab (05)

isra10(Dalam perjalanan itu), pada saat Nabi SAW sedang melaju, tiba-tiba, ada seseorang memanggil-manggilnya dari arah kanan: “Hai Muhammad, lihatlah aku, kumohon!…” Beliau tidak menjawab panggilan itu. Lalu, beliaupun bertanya: “Apakah (gerangan yang memanggil-manggilku) ini, ya Jibril?” Jibril menjawab: “Ini adalah (panggilan) seorang misionaris Yahudi. Adapun engkau, jika menjawab (panggilan)nya, maka umatmu akan menjadi umat yahudi.”

Continue reading ‘Suatu Malam di Bulan Rajab (05)’

Next Page »