Ramadhan di Masa Kecil: Menghitung Bus

23 Jul 2012

Dari kejauhan sana, sebuah kendaraan besar berbentuk kotak persegi panjang terlihat bergerak, mendekat. Kami segera berdiri, serentak, lalu menebak tulisan yang akan tertera di bodi kanan dan kirinya. Dari warna bodinya, saya dapat langsung menerka: PO. Bahagia!

Bus-bus dari perusahaan angkutan yang saya tidak tahu di mana poolnya itu memang khas: putih kusam. Bus-bus mereka kebanyakan bertrayek Jakarta-Banjar atau, kadang-kadang, Jakarta-Tasikmalaya. Selain PO. Bahagia, ada PO lain yang warna bus-busnya juga khas, yaitu PO. Merdeka. Warna bus-bus mereka paduan antara putih bercambur biru.

Duduk-duduk di pinggir Jalan Raya Pajajaran, sambil menghitung bus-bus antar kota yang melintas, adalah bagian dari kegiatan saya jika ‘ngabuburit’ bersama teman-teman di masa kecil dahulu. Saya, Katut, Pi’it, Wahyu, dan sejumlah teman lain, biasanya, berangkat selepas shalat Ashar, lalu kembali pulang sekitar pukul lima atau setengah enam sore.

Jarak antara pemukiman kami dengan jalan raya itu hanya sekitar satu kilometer saja. Tembok semen pembatas jembatan yang ada di sana selalu menjadi lokasi yang kami tuju, alias lokasi favorit. Di sanalah kami duduk-duduk menanti senja.

Selain berlomba menghitung bus-bus yang melintas, kami pun berebut mencari tahu apakah bus-bus itu memiliki fasilitas TV berwarna di kabin depannya. Jika ada, kami bersorak gembira, lalu saling menebak film apa yang ditayangkan. Saya selalu senang jika film yang tertayang adalah Kartun Donald Bebek. Kami mencoba menontonnya, walau hanya beberapa detik saja karena cepatnya bus melintas.

TV berwarna adalah benda yang sangat mewah ketika itu. Di pemukiman kami, seingat saya, tidak ada seorang pun yang memilikinya. Karena itu, kami selalu takjub jika melihat benda mewah itu tergantung di kabin depan bus.

Rasa lelah baru dirasakan ketika senja turun. Ribuan kalong besar yang beterbangan di langit menjadi tandanya. Kami beranjak dari tempat favorit itu, lalu berlarian pulang. Sajian kolak ubi atau singkong saat berbuka nanti terus menari-nari di depan mata.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post