Ramadhan di Masa Kecil; Macam-Macam Kolak

31 Jul 2012

Sejak saya masih kecil, kolak adalah menu ta’jil yang ‘wajib’ ada saat berbuka puasa. Jenisnya bisa apa saja: kolak Oblang, kolak Pisang, kolak Ubi, kolak Singkong, kolak Biji Salak, kolak tape (bukan Tape Compo!), bahkan kolak terigu!

Di antara sekian jenis kolak itu, kolak Oblang adalah yang paling “mewah.” Bahan dasar Oblang adalah durian matang atau setengah matang. Kolak “kelas elit” ini tidak selalu bisa dibuat di setiap Ramadhan karena durian, bahan dasarnya, tidak selalu ada. Buah durian seringkali sulit didapat. Atau, ketika buah itu ada, harga belinya terlalu mahal.

Setingkat di bawah Oblang, ada Kolak Pisang yang juga, bagi saya, masuk kategori makanan “mewah.” Jenis pisang yang bisa menjadi bahan dasarnya banyak. Karena itu, kolak pisang pun terbagi menjadi beberapa “kelas.” Yang paling istimewa adalah Pisang Kepok. Di bawahnya, Pisang Nangka. Dan, yang terendah, Pisang Siam.

Di bawah Oblang dan kolak pisang ini, ada beberapa jenis kolak lain yang “kelas”nya sejajar dan biasa-biasa saja: Kolak Ubi, Kolak Singkong, Kolak Tape, Kolak Nangka, Kolak Waluh, Kolak Biji Salak, dan sebagainya. Semua jenis kolak ini, biasanya, disajikan bergantian tergantung pada bahan apa yang tersedia.

Jika semua jenis kolak” kelas atas” dan “kelas biasa-biasa” saja itu sulit dibuat dan disajikan, padahal kolak harus selalu tersedia sebagai ta’jil, maka jenis kolak yang berada di “kelas terendah” pun terpaksa dibuat: Kolak Terigu!

Kolak Terigu adalah kolak yang hanya dibuat dalam situasi “gawat darurat.” Bahan dasarnya hanya adonan kental terigu, sedikit garam, dan air. Adonan itu diceburkan sesendok demi sesendok ke dalam air yang sedang mendidih. Tidak terlalu lama, adonan kental itu pun berubah menjadi gumpalan-gumpalan kenyal terigu. kekenyalannya mirip dengan baso. Tambahkan gula merah dan santan ke dalamnya. Maka, kolak darurat itupun siap disantap.

Bagi saya, kolak dengan aneka jenis dan kelasnya itu bukan hanya menjadi menu ta’jil, namun, terkadang, menjadi menu satu-satunya yang saya santap di malam hari. Jikapun ada makanan lain setelahnya, maka itu adalah bihun, bakwan, kerupuk, dan makanan ringan sejenisnya. Makan besar, yaitu nasi dan lauk pauk, hanya saya lakukan saat sahur. Itu pun tetap ditutup dengan makanan pencuci mulut berupa sisa kolak sebelumnya yang belum habis disantap.

Kesukaan saya terhadap menu ta’jil yang satu itu, terkadang, berlebihan. Saya akan sangat marah jika ibu “lalai” menyediakannya. Saya pernah mogok tidak mau berbuka karena ketiadaan kolak di meja makan, sekalipun azan maghrib telah lama berkumandang. Hanya kolak yang boleh menjadi pembatal puasa! Begitu kira-kira sikap saya.

Untuk memastikan bahwa makanan ini akan tersedia saat azan maghrib nanti, saya selalu menyempatkan diri singgah di dapur sekitar pukul dua siang untuk menyelidiki sudah belumnya ibu menyiapkan bahan-bahan kolak untuk dimasak. Jika sudah, saya pun tenang. Jika tidak, saya segera mengingatkan beliau untuk tidak lupa membuat kolak.

Kebiasaan menjadikan kolak sebagai menu ta’jil baru berhenti setelah saya menikah. Istri terbiasa langsung menyantap makan besar saat berbuka. Pada awalnya, saya kesulitan menyesuaikan diri dengan pola berbukanya. Namun, perlahan-lahan, saya pun terbiasa.

Sekalipun demikian, rasa rindu terhadap kolak masih muncul sekali-kali. Untuk sekedar mengobatinya, setelah berbuka bersama istri, saya sering menyelinap ke rumah ibu, yang jaraknya tidak jauh dengan rumah saya, untuk sekedar menyuap satu atau dua sendok kolak. Kebetulan, ibu masih sering menyediakannya untuk ta’jil berbuka adik-adik saya yang belum menikah.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post