Tentang si Liong Bulan

3 Aug 2012

Bagi saya, kopi adalah minuman “wajib”. Saya tidak ingat pernah tidaknya saya melewatkan satu hari saja tanpa menyeruput kopi. Yang pasti adalah, dapur akan terasa kosong dan kepala akan terasa berputar-putar jika serbuk minuman ini habis.

Di antara sekian banyak merk kopi, Cap Teko adalah merk yang pertama paling berkesan. Kopi ini sudah saya kenal sejak kecil karena ayah saya adalah penggemarnya. Setiap kali beliau meracik minuman itu, saya sering, diam-diam, mencicipinya. Karena seringnya mencicipi kopi yang rasanya mantap itu, maka jadilah saya penikmatnya pula.

Entah karena sebab apa, Kopi Cap Teko mengalami penurunan mutu ketika saya dewasa. Rasanya menjadi jauh berbeda, tidak lagi mantap di lidah seperti selama ini dirasakan. Saya pun mulai mencoba berbagai merk kopi lain dan baru merasa cocok setelah mencicipi kopi bermerk ABC. Maka, ABC pun saya jadikan sebagai pengganti Kopi Cap Teko itu.

Di kemudian hari, Kopi ABC itu, lagi-lagi, tercecap mengalami perubahan rasa, entah karena sebab apa. Yang pasti, lidah saya tidak lagi dapat menikmatinya. Maka, saya pun kembali bertualang mencoba berbagai jenis kopi dari yang berharga murah sampai yang berharga mahal. Selama beberapa waktu, tidak ada kopi pengganti yang rasanya semantap kopi-kopi kegemaran saya sebelumnya.

Lalu, bertemulah saya dengan Cap Piala, sebuah merk kopi yang harganya murah, namun terasa pas di lidah. Kopi Cap Piala inilah yang akhirnya menggeser keistimewaan kopi Cap ABC di dan iapun menjadi minuman harian saya selama beberapa tahun. Kopi dengan merk ini tidak beredar luas. Kita hanya akan menemukannya di beberapa wilayah Bogor dan sekitarnya.

Nasib kopi Cap Piala ini pun, ternyata, sama saja dengan merk-merk sebelumnya. Ia berubah rasa karena sebab yang tidak saya ketahui. Untuk urusan rasa, lidah memang sulit dibohongi. Akibatnya, saya pun harus kembali bertualang, mencoba berbagai jenis kopi yang beredar di pasaran.

Lidah saya baru menemukan kembali jodohnya ketika mencoba Kopi Cap Liong Bulan. Merasa pas dengan rasanya, saya pun memutuskan untuk “melamar” kopi ini sebagai pasangan lidah saya. Maka, sejak itu hingga sekarang, jadilah kopi ini sahabat tetap saya.

Setiap hari, saya bisa menghabiskan Kopi Liong Bulan sebanyak 3 sampai 5 gelas, tergantung kesibukan pada hari itu. Semakin banyak pekerjaan, semakin banyak pula kopi yang saya teguk. Volume kopi yang dihabiskan setiap hari di rumah akan meningkat jika saya menghitung pula sajian kopi ini kepada para tamu yang datang ke rumah. Untuk para tamu yang menyukai kopi, terutama perokok, Liong Bulan menjadi minuman standar yang selalu disajikan.

Oh iya, agar kelezatannya betul-betul terasa, Kopi Liong Bulan harus diracik dengan cara yang khusus. Setiap orang, bisa jadi, memiliki cara meracik sendiri. Demikian pula halnya dengan saya. Untuk mendapatkan rasa terbaik, kopi ini saya racik dengan cara sebagai berikut:

Pertama, menyiapkan bubuk kopinya, juga gula pasir. Satu sendok makan gula pasir –atau bisa disesuaikan dengan selera– dimasukkan lebih dahulu ke dalam gelas, lalu disusul dengan 2 sendok makan bubuk kopi. Pada tahap ini, harus diingat, bahwa gula berada di bawah dan kopi di atas. Jika terbalik, maka rasanya akan menjadi berbeda. Jika bahannya adalah kopi sachetan yang sudah dicampur gula –dan kopi sachetan semacam inilah yang setiap hari tersedia di rumah saya– langsung saja kopi itu dimasukkan ke dalam gelas.

Kedua, menuangkan air yang benar-benar mendidih ke dalam gelas kopi itu, bukan air panas dari dispenser atau air panas yang disimpan di dalam termos. Saya sendiri biasa menjerang langsung satu gelas air untuk keperluan itu. Pada tahap ini, rasa paling mantap akan didapatkan jika volume air yang dituangkan tidak sampai mencapai batas mulut gelas, tetapi cukup 75% dari volume gelas standar (ukuran gelas standar itu berapa cc. ya?). Setelah air mendidih itu mengguyur bubuk kopi di dalam gelas,  ia harus dibiarkan lebih dulu selama sekitar satu atau dua menit. Setelah itu, baru diaduk perlahan selama sekitar satu menit sehingga paduan kopi, gula pasir, dan air mendidih itu betul-betul menyatu.

Jika semua prosesnya dilakukan dengan benar, akan terlihat buih-buih putih di permukaan gelas yang menebarkan aroma wangi yang khas. Aroma khas itu, tentu saja, sangat mengundang selera.

Cara peracikan semacam itu selalu saya lakukan jika hendak menyajikan kopi kepada para tamu yang datang bertandang. Setiap kali menyeruput kopi yang tersaji itu, reaksi mereka selalu, nyaris, sama: “Kopi apa ini? Enak banget!”

Mang Ade, salah seorang tukang yang sering bekerja untuk saya, adalah contoh “korban”nya. Karena “terkesima” dengan rasa kopi itu, ia sampai mengatakan bahwa kopi yang diseruputnya di rumah saya itu membuatnya tidak lagi dapat menikmati kopi apapun di tempat lain, bahkan di rumahnya sendiri. Maka, setiap kali pria itu datang bertamu, seulas “senyum khusus” selalu dilemparkannya. Dan, saya mengerti, itu isyarat bahwa Mang Ade mengharapkan segelas kopi Liong Bulan itu.

Semoga Liong Bulani ini tidak mengalami penurunan mutu di kemudian hari seperti merk-merk lainnya… :)


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post