Pentas Kolosal

5 Aug 2012

Sebentar lagi, pada minggu terakhir ramadhan, kita akan menyaksikan sebuah pentas kolosal yang selalu berulang setiap tahun: MUDIK. Jutaan orang akan bergerak dan berpindah secara bersama-sama, untuk sementara, dari satu daerah ke daerah lainnya. Pergerakan manusia secara massal ini, umumnya, terjadi dari kota-kota besar, terutama Jakarta, ke kota-kota kecil atau daerah-daerah terpencil.

Apakah kekuatan atau motif yang sanggup menggerakkan sekaligus jutaan orang ini? Kesadaran pentingnya menjaga silaturrahmi dan persaudaraan? Kegersangan jiwa selama hidup di tengah hiruk-pikuknya kota? Kepedulian sejarah? Pameran kemapanan ekonomi ke keluarga di kampung halaman? Semuanya mungkin. Setiap pelaku yang terlibat dalam pergerakan massal ini bisa saja memiliki motif yang berbeda-beda.

Apapun motif yang melatarbelakanginya, yang pasti adalah drama kolosal ini selalu menarik untuk saya simak. Begitu menariknya sampai-sampai saya selalu mengikuti, dari jam ke jam, tayangan perkembangan berita seputar mudik di televisi. Tidak ada acara televisi semenarik ini.

Tidak saja tertarik, sayapun, diam-diam, selalu rindu menjadi bagian dari para pemudik itu. Kebetulan, saya punya tujuan mudik sendiri, yaitu Kota Surakarta (Solo), tempat istri saya berasal. Ada sensasi tersendiri yang sulit dlukiskan saat saya menyusuri kilometer demi kilometer lintasan jalan di jalur mudik. Sensasi yang diperoleh akan terasa lebih hebat lagi jika terjadi sesuatu yang justru tidak diinginkan oleh kebanyakan orang, yaitu MACET!

Mudik tanpa kemacetan laksana sayur asem tanpa garam; hambar dan tidak ada sensasinya. Saya, misalnya, suatu kali pernah mengantar seseorang mudik ke Tasikmalaya pada 3 hari sebelum Idul Fitri. Kemacetan di sepanjang jalan Bogor-Tasikmalaya begitu menggila sampai-sampai saya harus menghabiskan waktu 15 jam untuk bisa tiba di kota itu! Di kali lain, saya pernah harus menghabiskan waktu sampai dua hari dua malam nonstop untuk menempuh lintasan jalan sejauh, sekitar, 600 kilemeter dari Solo ke Bogor! Bosan? Ya dan sangat melelahkan. Tapi, Itulah anehnya, saya selalu merindukannya lagi.

Dahulu, saat masih kuliah di Yogyakarta, saya selalu menunggu tibanya masa puncak arus mudik jika hendak pulang ke Bogor. Ada dua alasan: pertama, saya tidak ingin melewatkan waktu terbaik untuk menyaksikan dan menjadi bagian dari parade mudik ini. Kota Yogyakarta, yang penduduknya juga relatif heterogen, mengalami juga keadaan ditinggal penghuninya di masa liburan idul fitri.

Kedua, dari Yogyakarta, bus-bus tujuan Jakarta sangat berserakan di terminal dan pinggir jalan. Kebanyakan bus-bus itu kosong melompong tanpa penumpang. Sebelum lebaran, penumpang hanya penuh dari Jakarta ke kota-kota di sebelah timur. Sebaliknya, dari kota-kota di timur, termasuk Yogyakarta, ke arah Jakarta kosong.

Dalam keadaan seperti itu, para supir bus akan rela dibayar berapa pun agar bisa membawa penumpang ke Jakarta. Dalam kondisi seperti itu, saya bisa menumpang bus kelas Eksekutfi bertrayek Yogyakarta-Bandung hanya dengan membayar sebesar Rp. 5.000,- saja. Bagi para awak bus, mendapat sedikit uang tambahan untuk membeli solar jauh lebih baik daripada membiarkan bus-bus mereka kosong melompong.

Saya kadang punya pikiran “tidak waras”: ingin menghabiskan waktu di jalan selama musim mudik berlangsung. Saya pun kadang berpikir alangkah beruntungnya para supir bus atau masinis kereta api. Mereka tidak pernah kehilangan momentum luar biasa ini. Sayang, saya bukan masinis atau supir bus! :)


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post