Djogjakarta; Sepotong Cerita

6 Aug 2012

Agaknya, inilah dia halaman putus itu; sebuah novel berjudul Merdeka Tanahku, Merdeka Negeriku yang ditulis oleh Purnawan Tjondronegoro. Buku terbitan tahun 1981 ini saya temukan kembali tanpa sengaja ketika melihat daftar koleksi buku tua yang dijual di sebuah toko buku online.

Oh iya, ini tentang Djogjakarta, kota yang pernah saya tinggali selama saya menempuh pendidikan sarjana di tahun 1992-1996. Kota di mana Sri Sultan Hamengkubuwono X bertahta ini sudah saya kenal dengan baik, bahkan lekat dalam hati, sejak jauh sebelum saya sendiri pergi ke dan tinggal di sana. Mengapa demikian? Nah, ini yang saya sebut dengan halaman putus.

Alkisah, setelah saya menyelesaikan pendidikan jenjang menengah atas di Pesantren Modern Daarul Uluum, Bogor, keluarga bertanya ke mana saya ingin melanjutkan belajar. Merespon pertanyaan itu, kata Djogja keluar begitu saja dari mulut ini. Saya berminat, jika lulus dalam testingnya, untuk melanjutkan studi di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, IAIN Sunan Kalijaga.

Mengapa Djogja yang dipilih? Mengapa bukan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta saja? Ada dua alasan utama yang melatarbelakanginya. Pertama: saya ingin memenuhi keinginan yang sudah tumbuh sejak kecil dahulu, yaitu bertualang ke berbagai pelosok Jawa bagian tengah dan, jika nanti memungkinkan, bagian timur. Saya ingin mencontoh apa yang pernah dilakukan oleh salah seorang paman saya, yaitu menggelar petualangan belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya di berbagai penjuru Jawa Timur. Kedua, sekalipun Djogja adalah tempat yang belum pernah dikunjungi, saya merasa telah sangat kenal dan familiar dengannya. Kok bisa? Itulah yang saya sendiri mengherankannya dahulu, bahkan sampai sekarang. Saya tidak tahu, atau tepatnya lupa, apa sebabnya. Ini seperti, jika diibaratkan dengan membaca buku, beberapa lembar halaman hilang. Nah, setelah melihat kembali novel karya Tjondronegoro itulah memori saya, tiba-tiba saja, terbongkar kembali.

Dahulu, ketika baru duduk di bangku kelas 4 Madrasah Ibtidaiyyah, membaca buku, terutama novel, sudah menjadi kesukaan saya. Koleksi perpustakaan madrasah menjadi sasaran. Berbagai buku yang ada di lemari-lemarinya saya lahap. Beberapa koleksinya, bahkan, saya baca lebih dari satu kali.

Merdeka Tanahku, Merdeka Negeriku, ini adalah salah satu novel favorit. Buku yang tebalnya lebih dari 500 halaman ini pernah saya baca sampai tamat hingga lima kali. Novel ini menjadikan sejarah pergolakan bangsa Indonesia dari awal kemerdekaan hingga Serangan Oemoem 1 Maret 1949 sebagai latar belakangnya. Alur ceritanya berpusat di situasi Djogjakarta, ibukota Republik Indonesia ketika itu, selama masa pendudukan Belanda. Albert Dupree menjadi tokoh utamanya. Ia adalah seorang letnan di Brigade T tentara kerajaan Belanja yang turut ditugaskan menyerbu dan menduduki Djogjakarta.

Novel perjuangan inilah yang memasok berbagai informasi detail tentang Djogjakarta ke dalam memori saya; nama-nama tempat dan sejumlah adat istiadatnya. Setelah berkali-kali membaca buku ini, ingatan saya merekam dengan kuat berbagai nama tempat di kota itu, seperti Alun-alun Utara, Malioboro, Sleman, Godean, Bringharjo, Maguwo, Kota Gede, Imogiri, Stasiun Tugu, Lempuyangan, Piyungan, Pathuk, Wonosari, dan lain sebagainya.

Melalui novel ini, saya pun hafal dengan sejumlah tokoh Belanda yang sangat berperan dalam keputusan menggelar agresi militer ke pusat pemerintahan Republik itu. Di tingkat teratas, ada DR. Beels, sang wakil Mahkota Kerajaan Belanda di Indonesia. Beels inilah yang mengumumkan secara resmi, melalui radio, kepada dunia internasional tentang Aksi Polisionil yang dilakukan Kerajaan Belanda, tepat di hari digelarnya serangan militer itu. Ada pula Jenderal Spoor, Panglima Tertinggi Tentara Belanda di wilayah Sumatera dan Jawa. Dialah tokoh yang menyusun seluruh rencana aksi militer yang, oleh rakyat Indonesia, dikenal dengan Agresi Militer Belanda II itu. Spoor adalah seorang jenderal Belanda yang sangat bernafsu menghabisi seluruh kekuatan bersenjata Republik.

Selanjutnya, di tingkat menengah, ada Kolonel Van Langen, komandan seluruh pasukan Belanda yang menyerbu Djogjakarta. Dia pun menjadi anggota delegasi Kerajaan Belanda yang menemui Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk menegosiasikan pembersihan gerilyawan-gerilyawan Republik dari wilayah Ngayogjakarta Hadiningrat. Di bawahnya lagi ada Kapten Eekhout, komandan KST, pasukan elit Belanda, yang diterjunkan di dan ditugaskan merebut lapangan terbang Maguwo (sekarang Adisutjipto).

Terakhir, di tingkat paling bawah, ada Letnan Albert Dupree, sang tokoh utama dalam novel ini. Dupree adalah seorang anggota pasukan darat Belanda yang pernah tinggal di Indonesia dan, sesungguhnya, bersimpati kepada para pejuang Republik. Dupree mencintai Atikah, seorang wanita pribumi sederhana kelahiran, jika saya tidak salah, Karawang. Perang Dunia II yang pecah di Eropa dan Asia Timur Raya memisahkan keduanya. Sesaat sebelum tentara Jepang masuk ke Indonesia, pemuda Dupree kembali ke negerinya, menjadi tentara, lalu ditugaskan di front-front tempur Eropa. Setelah perang usai, Dupree menjadi bagian dari tentara Belanda yang dikirim ke Indonesia.

Setelah kembali ke Indonesia, tugas penyerangan ke Djogjakarta disambutnya dengan suka cita. Ia berharap akan bertemu kembali dengan Atikah, wanita Indonesia sederhana yang dicintainya itu. Atikah, menurut kabar yang diterimanya, mengungsi ke kota itu setelah perang kemerdekaan pecah. Namun, Dupree tidak dapat mewujudkan harapannya karena, dalam suatu tugas patroli, pasukannya disergap gerilyawan Republik. Ia tewas setelah sebutir peluru menembus jantungnya.

Nama Djogjakarta semakin lekat lagi dalam benak saya karena seringnya TVRI menayangkan dua film perjuangan yang juga bersetting kota ini, yaitu Kereta Api Terakhir dan Janur Kuning. Film pertama mengisahkan hijrahnya TNI dari Jawa Barat ke Djogjakarta setelah berlakunya Perjanjian Renville. Sementara itu, film kedua mengisahkan peristiwa Serangan Oemoem 1 Maret 1949 yang dilakukan oleh TNI dan rakyat ke kota Djogjakarta yang telah delapan bulan diduduki Belanda.

Berbagai peristiwa sejarah yang direkam dalam novel ini, juga dua film itu, memang masih sarat dengan kontroversi. Namun, lepas dari semua itu, ketiganya berperan sangat besar dalam menanamkan kesan kuat Djogjakarta ke dalam pikiran dan hati saya ketika itu.

Demikianlah, Djogja menjadi kota perjuangan yang sudah saya kenal baik sekalipun saya belum pernah mengunjunginya. Maka, setelah saya tiba untuk pertama kalinya di kota ini pada bulan Agustus 1992, saya seperti sedang berkunjung ke Djogjakarta di tahun 1948-1949. Malioboro dan Alun-Alun Keraton adalah dua titik yang pertama kali saya sambangi setelah saya menyelesaikan seluruh urusan di kampus IAIN Sunan Kalijaga.

Sepanjang menyusuri Jalan Malioboro dan Alun-Alun Utara Kraton Djogjakarta, dalam imajinasi saya hadir panser-panser tentara Belanda yang hilir mudik berpatroli. Serdadu-serdadunya berlari-lari kecil di belakang kendaraan-kendaraan tempur berlapis baja itu sambil memanggul senjata. Saat berdiri sejenak di depan Gedung Agung, saya melihat, seolah, Bung Karno dan Bung Hatta berjalan gagah diiringi sejumlah pasukan musuh yang menawan keduanya.

Senja hari, saya berjalan dari sana ke Stasiun Tugu. Di pelataran penumpangnya, saya duduk, tercenung, seolah sedang menanti tibanya Kereta Api Terakhir yang membawa pasukan TNI dan rakyat itu. Setiap kali rangkaian kereta akan melintas atau berhenti, Sepasang Mata Bola menjadi lagu yang selalu diperdengarkan oleh pengelola stasiun melalui sejumlah pengeras suara. Lagu itu betul-betul menerbangkan saya ke masa bergolaknya perjuangan pisik mempertahankan kemerdekaan itu.

Esok paginya, saat menatap ke bagian langit di sebelah timur, saya melihat belasan pesawat angkut yang sedang menerjunkan pasukan KST, satuan elit tentara Belanda yang dipimpin oleh Kapten Eekhout. Ah, si Eekhout dan 450-an orang anak buahnya itu hanya memerlukan waktu setengah jam saja untuk dapat menundukkan 150-an pasukan TNI yang menjaga lapangan terbang Maguwo. Lapangan itupun, dengan mudah, jatuh ke tangannya sehingga ribuan tentara Belanda dari berbagai brigade dapat didaratkan, lalu bergerak ke pusat kota.

Di waktu lain, saya berkunjung ke Kecamatan Piyungan. Saat menyapukan pandangan ke pedesaan-pedesaannya yang berada di kaki bukit Pathuk, saya melihat dari kejauhan, serombongan gerilyawan Republik yang sedang memanggul sebuah tandu, bergantian. Di dalamnya, duduk Jenderal Soedirman yang, walaupun dalam keadaan sakit parah, tetap memimpin pasukannya bergerilya.

Saya kembali menatap ke layar monitor. Cover buku karya Tjondronegoro yang mengandung link itu saya klik. Beberapa saat kemudian, uraian rinci tentang novel itupun tertayang di layar monitor

Djogjakarta


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post