Ramadhanku 1

10 Aug 2012

Lembaran-lembaran kertas lusuhmu itu selalu saja mengisahkan, tanpa bosan, kerianganku bersama anak-anak kampung di tepi sungai Ciliwung, sehari sebelum engkau datang. Mentari masih mempertontonkan kegarangannya ketika kami, dengan telanjang dada, berlompatan tanpa ragu ke derasnya air, seraya memekik gembira.

“Bersihkan tubuh-tubuh legam itu agar kalian tak malu menyambutnya!,” demikianlah orang-orang tua kami, tadi, berkata. Maka, kami pun duduk berjajar di bagian datar bebatuan cadas tepi sungai itu. Gumpalan sabut kelapa, yang kami kantongi sejak dari rumah, meluruhkan debu-debu lekat yang melumuri tubuh.

Potongan-potongan genting di tepi-tepi halaman rumah pun, tadi, turut pula dibawa serta, segenggam atau dua. Kami berlomba menumbukinya hingga halus di sebongkah batu hitam yang dipungut dari landainya dasar atau tepian sungai.

“Gunakan bubuk-bubuk merah itu sebagai pengusir noda-noda hitam di gigi-gigimu!,” demikian orang-orang tua kami, tadi, berkata. Maka, dengan tetap duduk berjajar di sana, kami menggosoki hingga bersih gigi-gigi yang hitam dan, kadang, tak lagi utuh itu.

Oh, ya, gumpalan-gumpalan hitam yang biasanya teronggok di pojok-pojok halaman tempat orang-orang menjemur berkarung-karung padi mereka itu pun turut kami jumput. Itu adalah kulit bulir-bulirnya yang hangus dibakar.

“Gunakan bubuk-bubuk hitam itu sebagai pengusir kutu-kutu kotor yang selalu berkerumun di sela rambut-rambut kepala kalian!,” demikian orang-orang tua kami, tadi, berkata. Maka, kami pun berjongkok, melumuri dan menggosok kepala-kepala kami yang selalu berlumur tanah itu.

Ketika mentari telah memamerkan rona kekuningannya, aku dan anak-anak itu pun keluar dari kobak-kobak sungai yang sejak tadi direnangi dan diselami. Bibir-bibir kami yang telah membiru itu melenggokkan tarian dingin yang tiba-tiba saja menyergap. Tubuh-tubuh legam kami pun menggigil, kedinginan.

“Kini, kenakanlah pakaian bersih yang sudah teronggok di atas meja itu. Nantikanlah kehadirannya sesaat lagi. Ramadhan agung kan menyambangi kita, tepat ketika malam mulai menyergapkan gelapnya,” demikian orang-orang tua kami berkata.

Bantarkemang, Bogor

Jum’at, 10 Agustus 2012/22 Ramadhan 1433


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post