Ramadhanku 2

11 Aug 2012

Bedug besar di pojok mushalla kebanggaan kampung belumlah ditalu ketika puluhan obor itu mulai menyala. Pendaran cahayanya menerangi jalan setapak yang selalu lincin di musim penghujan.

Para ibu dan anak-anak gadis mereka berjalan, beriringan, ke sana dengan tubuh-tubuh yang telah berbalut mukena. Aneka celotehan, riang, berhamburan; tentang waktu yang melipat diri sangat cepatnya, tentang menu-menu istimewa yang akan tersaji di meja-meja makan, dini hari nanti, tentang si fulan yang selalu gagal bangkit dari pembaringannya hingga pagi menjelang, dan entah tentang apa lagi.

“Ambil sarungmu dan mari pergi ke mushalla kita. Ramadhan agung itu akan lebih kaurasakan kehadirannya di sana,” demikian ayahku, malam itu, berkata. Maka, kuraih kain lusuh yang menggantung di kastop –tempat khusus menggantung pakaian yang biasanya terpaku di bagian belakang pintu– dan menyelendangkannya ke pundak.

Aku berlari ke sana, ke kerumunan anak-anak kampung yang juga sedang riuh berceloteh; tentang si Buyung yang, pada tahun kemarin, selalu tertidur di pertengahan tarawih, tentang burung-burung puyuh yang tadi siang terlihat bergerombol di bawah pohon-pohon ketela, tentang pedagang martabak telur yang kehebatannya meracik adonan harus kami saksikan saat ngabuburit nanti, tentang komik-komik silat baru yang telah tersedia di kios penyewaannya di kampung tetangga, dan entah tentang apa lagi.

Salah seorang dari anak-anak itu menyembulkan tiga bungkus jagung goreng dari dalam kantong celananya, seraya menyunggingkan senyum, penuh rencana. Tawa kami, seketika saja, menderai. Kenakalan masih belum hengkang dari benaknya; ketika ia, di tahun lalu, menebarkan butiran-butiran makanan itu ke alas sujud orang-orang yang sedang khusu’ bertarawih.

Bedug besar di teras kiri mushalla kebanggaan kampung telah ditalu saat kami tiba. Orang-orang duduk dan berdiri, menyusun barisan shaf di hamparan karpet-karpet tipis yang kemarin belum ada. Lalu, seseorang menggaungkan Nama-Nya Yang Maha Besar. Keheningan syahdu menyergap serta merta ketika kami semua berdiri, memulai tarawih pertama di kampung ini.

Bantarkemang, Bogor

Jum’at, 11 Agustus 2012/23 Ramadhan 1433


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post