Misteri Si Garong

21 Aug 2012

Ini kisah seekor kucing yang pernah saya kenal saat kecil dahulu. Si Garong, demikian saya dan adik-adik menjulukinya; seekor kucing galak bertampang sangar kesayangan paman kami, Abdul Rozak. Tubuh kucing itu besar melebihi rata-rata tubuh belasan kucing lainnya yang berkoloni di tempat kediaman kami. Bulu-bulunya tebal berwarna hitam-legam kecuali bola mata –dengan tetap ada bulatan hitam di tengahnya– dan keempat telapak kakinya. Kedua matanya selalu menatap tajam, penuh curiga, dan sangat awas mengamati keadaan di sekitarnya.

Abdul Rozak, paman kami itu, sering terlihat memangku si Garong ke mana-mana sambil mengelus-elus bulunya yang tebal itu. Jika beliau makan, kucing itu sering ada di sampingnya, turut menikmati ransum makannya sendiri: campuran antara nasi dan serpihan ikan asin.

Di siang hari, Garong jarang sekali terlihat. Sekali muncul, dia selalu berada di tempat-tempat tinggi seperti genting rumah, langit-langit rumah, atau di atas lemari. Jarang sekali dia berjalan-jalan di lantai atau di permukaan tanah.

Di malam hari, Garong sering “duduk” manis dan berjaga di atas lemari tua di kamar nenek. Saya, yang setiap malam tidur di kamar itu, selalu merasa takut kepadanya. Tatapan kedua matanya selalu penuh permusuhan.

Garong adalah kucing “bernyawa sembilan.” Kemampuannya meloloskan diri dari maut sangatlah luar biasa. Saya dan adik-adik, juga orang-orang, tidak suka kepadanya dan, karena itu, kami sering memburu dan berusaha menangkapnya. Orang-orang malah berusaha membunuhnya berkali-kali. Ketidaksukaan kami kepada Garong dipicu oleh kebiasaan buruknya mencuri makanan di lemari atau di atas meja makan.

Sekalipun sayang kepada Garong, Abdul Rozak tidak pernah menegur, apalagi marah, jika saya, adik-adik, atau orang-orang memburunya. Dia hanya tersenyum dan malahan, seolah, berkata “silahkan saja tangkap kalau bisa!.”  Garong memang sangat lihai dan cerdik. Kecepatannya berlari sangat luar biasa. Perburuan-perburuan kami selalu saja gagal.

Namun, selihai-lihainya Garong menyelamatkan diri, pada akhirnya, nasib malang pun menimpa. Demikianlah, suatu siang, saya melihat seorang pria –saya lupa namanya– menyeret-nyeret, tanpa belas kasihan, seekor kucing dengan tali tambang. Kucing itu adalah Garong. Di ujung tali, dia terlihat menyerah, tidak mampu lagi meloloskan diri dari tali yang menjerat lehernya. Saya bersorak, namun juga merasa iba kepadanya karena perlakuan kejam pria itu. Dalam hati, saya bertanya-tanya bagaimana cara pria itu menangkap Garong?

Tanpa peduli dengan tatapan iba saya, pria itu terus menyeret Garong ke sebuah jembatan di ujung selatan kampung. Lalu, dengan semangat, dilemparkanlah kucing itu ke sungai Ciliwung yang mengalir di bawah. Tidak ayal lagi, arus sungai yang sedang naik karena banjir itu melumatnya tanpa ampun. Garong, terlihat, berusaha berenang, namun gagal. Ia pun tenggelam dan tidak muncul lagi ke permukaan air. “Tamatlah riwayat Garong,” pikir saya, sedih. Pria itu tersenyum puas, lalu meninggalkan jembatan.

Tahukah apa yang terjadi malam harinya? Bukan, bukan malapetaka atau semacamnya. Inilah yang terjadi: malam hari, saya masuk ke kamar nenek untuk tidur. Ketika merebahkan tubuh di kasur, lalu mengarahkan padangan ke bagian atas lemari tua milik nenek, saya melihat Garong sedang nangkring dan “duduk” manis seperti biasanya! Gusti, bagaimana kucing itu bisa ada di sana? Bukankah seharusnya dia mati ditelan sungai Ciliwung yang arusnya sedang menderas itu? Bagaimana cara dia melepaskan tali tambang yang menjerat erat lehernya?

Itulah, antara lain, kehebatan Garong yang pertama. Yang kedua, kisah Pak Wahab, tetangga saya, yang juga pernah berhasil menangkapnya, memasukkannya ke dalam karung, lalu membawanya ke kantor di mana dia sehari-hari berdinas. Jarak kantor itu dengan kediaman kami sekitar 3 kilometer. Tetangga saya itu berharap Garong akan mendapatkan tempat tinggal baru di sana dan kami terbebas dari kenakalan-kenakalannya yang menjengkelkan itu.

Tahukah apa yang terjadi malam harinya? Ya, tepat! Saat saya masuk ke kamar nenek untuk tidur, kucing itu, lagi-lagi, tampak sedang nangkring dan “duduk” manis di atas lemari tua milik nenek! Artinya, Garong berhasil pulang dari tempat pembuangannya, menempuh jarak sejauh 3 kilometer tanpa kesasar.

Untuk mengobati kekesalan kami terhadap kucing kesayangannya itu, Abdul Rozak pun mengajak saya dan adik-adik untuk membuangnya bersama-sama. Demikianlah, kami berhasil menangkapnya, juga 10 kucing lain yang saat itu berkeliaran di sekitar kediaman kami. Tidak sulit bagi paman kami menangkap Garong karena ia memang jinak kepadanya.

Garong dan kucing-kucing lainnya kami masukkan ke kabin mobil. Saya, adik-adik, dan paman kami masuk ke dalam mobil, lalu meluncur ke ruas jalan tol Jagorawi. Di sebuah tempat sepi selepas Gerbang Tol Ciawi, kami berhenti di tepi jalan. Kucing-kucing yang berseliweran di dalam mobil, kami usir keluar. Mereka berloncatan ke pingir jalan dan bergerombol. Sebagian hewan-hewan itu menatap kami. “Serius, nih, Bos? Kita harus turun di sini?,” demikian mereka, seolah-olah, berkata.

Ada rasa iba saat kami menatap kucing-kucing itu. Namun, keputusan sudah dibuat. Mereka, termasuk si Garong, harus turun di sini. Kami tidak khawatir kucing-kucing itu akan kelaparan karena sekitar seratus meter dari tempat itu ada sebuah perkampungan yang cukup padat. Mobilpun meluncur meninggalkan mereka.

Tahukah apa yang terjadi malam harinya? Ya, tepat! Hal mengherankan itu, lagi-lagi terjadi. Kucing-kucing lainnya memang tidak dapat kembali, namun Garong? Ia berhasil pulang menempuh jarak sekitar 10 kilometer! Saya menggeleng-gelengkan kepala sementara paman saya tersenyum-senyum.

Balada si Garong ini masih berlanjut untuk beberapa bulan kemudian hingga kisahnya, secara perlahan, tenggelam begitu saja. Diawali oleh mulai tidak tampaknya dia selama beberapa malam di atas lemari tua nenek. Saya tidak terlalu peduli dengan itu. Kami baru menyadari bahwa ada sesuatu terjadi padanya ketika kucing itu betul-betul tidak pernah terlihatt lagi. Garong menghilang entah ke mana. Abdul Razak, paman kami, pun tidak tamu ke mana dia pergi. Barulah lama setelah itu kami mendengar kabar bahwa Garong telah mati. Seseorang, katanya, berhasil membunuhnya. Entahlah…

Bantarkemang, Bogor

21 Agustus 2012/15.00 WIB


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post