Utamakan Selamat!

9 Sep 2012

Inspirasi menulis tentang keselamatan berkendara kembali muncul. Ini gara-gara peristiwa tidak mengenakkan sore tadi sepulangnya saya, bersama rombongan, dari Cisarua, Kabupaten Bogor: sebuah sepeda motor memotong jalur kami secara tiba-tiba dan, nyaris saja, terjadi tabrakan. Saya bersyukur sekali karena Yaser, adik bungsu saya yang bertindak sebagai sopir, mampu berkelit. Motor itu dan kami semua selamat. Namun, sumpah serapah, tidak urung, membuncah juga dari mulut adikku yang masih mudah emosional itu

Di negeri kita ini, undang-undang yang mengatur masalah lalu lintas, termasuk peraturan berkendara, memang sudah ada. Namun, dalam prakteknya, berbagai ketentuan tertulis itu banyak yang tidak diindahkan. Saya tidak tahu mana yang lebih dominan di antara dua sebab yang paling banyak saya amati ini: kurangnya sosialisasi undang-undang lalu lintas itu sehingga banyak pengguna jalan umum yang tidak mengetahuinya atau mentalitas para pengguna jalan itu yang memang masih saja sulit didongkrak.

Budaya berkendara yang membahayakan diri sendiri dan pengguna jalan lain masih sangat mudah kita temukan: memacu kendaraan melebihi batas maksimum kecepatan, berbelok atau memotong jalur tanpa menggunakan lampu sein, parkir di posisi yang mengganggu lalu lalang kendaraan lain, menggunakan lampu dim secara terus menerus, mempercepat laju kendaraan ketika lampu lalu lintas sudah menyala kuning, menyerobot antrian di tengah kemacetan, dan seabrek pelanggaran-pelanggaran lainnya. Kebiasaan buruk itu terus saja terjadi sehingga jalan raya sering “dipilih” malaikat maut sebagai tempat favorit untuk mencabut nyawa.

Mereka yang sudah berusaha disiplin saat berkendara seringkali dibuat jengkel oleh para pengguna jalan lain yang mengendarai mobil, motor, atau tunggangan lainnya secara serampangan. Orang-orang itu berprilaku seolah-oleh mereka memiliki nyawa cadangan. Padahal, saat berkendara, setiap kesalahan berpotensi mendapat balasan secara tunai: mati. Jalan raya tidak akan memberi “kesempatan kedua” bagi kita untuk memperbaiki suatu keteledoran.

Saya pernah mendengar seorang pengemudi melontarkan celetukan “percuma saja kita berhati-hati jika orang lain tidak. Celetukan ini, tentu saja, tidaklah tepat. Kehati-hatian memang tidak akan menjamin kita selamat 100%. Selalu terbuka kemungkinan munculnya faktor X yang tidak bisa diduga dan, karena faktor X itu, sebuah kecelakaan bisa terjadi. Selain dari itu, ketetapan ajal, toh, wilayah kekuasaan Allah semata. Jangankan di jalan raya, saat tidur di atas kasur empuk pun maut bisa menjemput tiba-tiba. Walaupun demikian, kehati-hatian, sudah pasti, akan meminimalisir kemungkinan kita celaka. Semakin berhati-hati dan mengindahkan peraturan berlalu-lintas, semakin jauhlah kita dari kemungkinan mati konyol. Demi keselamatan di jalan raya, menerapkan prinsip-prinsip berkendara secara aman adalah sesuatu yang, mutlak, harus dilakukan.

Harus diakui bahwa saya pun belum sepenuhnya berhasil menerapkan seluruh prinsip berkendara secara aman itu. Ada saja kebiasaan-kebiasaan buruk yang tetap saya lakukan, sadar atau tidak sadar, selama berkendara, apalagi ketika emosi tersulut, seperti tidak mengecek kondisi mobil sebelum berangkat, lupa mematikan lampu dim saat berkendara di malam hari, enggan mengenakan sabuk pengaman, terlalu percaya diri ketika menyalip kendaraan lain, dan lain sebagainya. Namun, secara perlahan, saya terus berusaha meninggalkan kebiasaan buruk berkendara yang masih tersisa itu, apalagi jika saya membawa penumpang. Kebiasaan-kebiasaan buruk itu harus bisa saya tinggalkan bukan semata karena undang-undang melarangnya, namun karena saya tidak ingin mati “konyol” di jalan raya!

Bagaimana dengan anda?

Bantarkemang, Bogor
Sabtu, 9 September 2012
Pukul 01.20 WIB


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post