• 15

    Feb

    Perjalanan Menembus Waktu (23)

    Kampung Kepaon, Denpasar. Kamis 28 Mei 2009, Pukul 15.30 WIB. Keramaian sore kota Denpasar mulai menjebak kami yang tetap harus awas mengamati nama setiap jalan yang dilintasi. Ribuan kendaraan melaju hilir mudik, padat dan merayap. Begitupun halnya sepeda motor. Tunggangan beroda dua itu, dalam bilangan yang entah berapa, saling berlomba menyalip mobil kami, dari kiri dan kanan, silih berganti. Oji melajukan kendaraan dengan perlahan. Perjuangan ektra untuk sampai di Kampung Muslim Kepaon harus dikerahkan. MT menatap tajam layar laptop yang dipangkunya, mengais informasi maya tentang di mana tepatnya posisi kampung itu. Terios, yang memimpin di depan, berkali-kali menepi, bertanya, lalu melaju kembali. Oji membuntuti setia. Namun, sepertinya, arah jalan ke kampung yang kami cari itu bel
  • 13

    Feb

    Perjalanan Menembus Waktu (22)

    Tanah Lot, Jembrana. Kamis 28 Mei 2009, Pukul 14.30 WIB. Sebuah plang penunjuk arah terbentang di atas jalan dan terlihat dari kejauhan: Tanah Lot, ke arah kanan. Ah, saya baru ingat bahwa Tanah Lot memang berada di bagian barat Denpasar. Saya perlambat segera laju kendaraan Panther tua ini, lalu menepikannya sebelum plang itu terlewat. “Ada apa berhenti?,” tanya MT, agak heran. “Tanah Lot, ke kanan. Tolong tanya ke Terios te, mau ke Tanah Lot dulu gak?,” jawabku. MT mengangguk, lalu turun, menanti rombongan di mobil Terios yang masih tertinggal agak jauh di belakang. Saat mobil itu tiba dan ikut menepi, MT langsung menyambut, bertanya ke penumpang di dalamnya. Hanya beberapa menit sebelum, akhirnya, kembali ke mobil saya, menganggukkan kepala: “Yup, kita ke
  • 10

    Feb

    Perjalanan Menembus Waktu (21)

    Loloan Timur, Jembrana. Kamis 28 Mei 2009, Pukul 11.00 WIB. Jembrana, kabupaten di bagian barat pulau Bali ini, ternyata, tidaklah sesepi yang saya kira. Kecamatan Negara, salah satu wilayahnya, memiliki pusat kegiatan ekonomi yang cukup ramai. Di kecamatan ini, terdapat sebuah desa yang menjadi tempat berkumpulnya ummat Islam beretnis melayu, yaitu Loloan Timur. Di Desa inilah terdapat makam Syarif Abdullah Bin Yahya al-Qodri, yang lebih sering disebut Syarif Tua, salah seorang tokoh penyebar Islam di Pulau Bali. Mencari Desa Loloan Timur menjadi acara yang sama sekali tidak mudah. Berkali-kali kami salah mengambil jalan. MT yang duduk di bangku depan, harus selalu turun dan bertanya untuk memastikan benar tidaknya nya jalan yang kami ambil. Sejumlah orang yang kami tanya menggelengkan
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post