• 4

    Mar

    Perjalanan Menembus Waktu (29)

    Lintasan Malang-Blitar. Jumat, 29 Februari 2009, Pukul 10.30 WIB. Acara sarapan pagi tuntas. Rombongan kembali meluncur dengan perut-perut yang sudah terisi kembali. Perjalanan masih sangat jauh. Dari Malang sini, kami masih harus meluncur ke Blitar, Tulungagung, Ponorogo, Pacitan, Wonosari, baru masuk ke Yogyakarta. Yogyakarta, kota itu, saya yakin tidak mungkin dicapai dalam tiga jam. Tidak ada pilihan, Acey harus menerima. Ia paling berkepentingan dengan waktu. Ah, ada rasa heran dalam hati, perjalanan pulang kami ini terasa begitu lama. *** Kedua mobil belum lama meluncur saat sebuah kecamatan dimasuki: Turen. Kecamatan di bagian selatan Kabupaten Malang ini bukanlah tempat asing untuk saya. Dahulu, sekitar tahun 1995, tempat ini beberapa kali saya kunjungi. Saya jadi ingat, di
  • 2

    Mar

    Perjalanan Menembus Waktu (28)

    Lintasan Lumajang-Malang. Jumat, 29 Februari 2009, Pukul 06.00 WIB. Deretan WC dan kamar mandi di SPBU ini lumayan bersih. Sebagian dari kami langsung mengambil air wuhdu, bergantian, lalu menunaikan shalat subhuh di mushalla yang berada di sebelah kanannya. Sebagian lain memilih membersihkan diri terlebih dahulu, mandi. Somad, misalnya, turun dari mobil sambil menenteng kantong plastik berisi sabun, sikat, pasta gigi, dan perlengkapan mandi lainnya. Saya berdiri, mengarah ke dinding di luar kamar mandi, menatap sebentang gambar besar yang tertempel di sana: peta Pulau Jawa. MT bergabung, juga Oji. Keduanya berdiri di samping saya, sama-sama mengamati gambat besar itu. Hmm, peta yang lumayan detail. SPBU ini seperti tahu apa yang kami butuhkan. Kami tajamkan pandangan ke titik di mana
  • 20

    Feb

    Perjalanan Menembus Waktu (27)

    Lintasan Jember-Lumajang. Jum’at, 29 Februari 2009, Pukul 02.00 WIB. Terios, dalam kendali Oji, melejit lebih cepat. Saya mengimbanginya dengan semangat. Adreanaline terpacu naik. Kantuk, yang dari tadi mulai menggelayut dan memberatkan kedua mata, serta merta hilang. Bagi saya, memacu mobil pada kecepatan yang terlalu rendah, 50-60 km/jam, di jalan lurus, di malam buta yang sepi, dan dengan perut yang terisi penuh pula, adalah sebuah siksaan. Kantuk akan mudah menyerang. Dan, tentu saja, itu berbahaya. Kantuk dapat hilang jika ada sesuatu yang mampu memaksa saya menajamkan kedua mata, berkonsentrasi. Menambah kecepatan mobil, misalnya. Lintasan jalan yang kami susuri ini masih saja lengang. Belum juga ada kendaraan lain yang berpapasan, melintas ke arah berlawanan. Belum juga terl
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post