• 6

    Aug

    Djogjakarta; Sepotong Cerita

    Agaknya, inilah dia halaman putus itu; sebuah novel berjudul Merdeka Tanahku, Merdeka Negeriku yang ditulis oleh Purnawan Tjondronegoro. Buku terbitan tahun 1981 ini saya temukan kembali tanpa sengaja ketika melihat daftar koleksi buku tua yang dijual di sebuah toko buku online. Oh iya, ini tentang Djogjakarta, kota yang pernah saya tinggali selama saya menempuh pendidikan sarjana di tahun 1992-1996. Kota di mana Sri Sultan Hamengkubuwono X bertahta ini sudah saya kenal dengan baik, bahkan lekat dalam hati, sejak jauh sebelum saya sendiri pergi ke dan tinggal di sana. Mengapa demikian? Nah, ini yang saya sebut dengan halaman putus. Alkisah, setelah saya menyelesaikan pendidikan jenjang menengah atas di Pesantren Modern Daarul Uluum, Bogor, keluarga bertanya ke mana saya ingin mela
  • 23

    Jul

    Budaya Hafalan dan Arti Ummi

    Masyarakat Jazirah Arab sangat menjunjung tinggi budaya hafalan. Kemampuan mereka dalam hal ini sangat mengagumkan sampai-sampai “kalbu mereka adalah bagaikan lembaran kertas (buku),” demikian Ka’ab al-Ahbar mengilustrasikannya. Di kalangan mereka, seseorang yang memiliki kemampuan menghafal yang baik akan diposisikan mulia. Karena budaya hafalan ini, lalu ditambah dengan sulit alat tulis menulis, budaya menulis dan membaca tidak mendominasi. Bagi beberapa kalangan, memiliki skill menulis dan membaca malah dianggap sebagai sebuah kekurangan, bahkan aib. Karena itu, kelirulah siapa yang menilai bahwa keadaan Nabi saw yang ummi (tidak dapat membaca dan menulis) adalah berarti ada kekurangan pada diri beliau. Di zaman kita saat ini, ketidakmampuan membaca dan menulis mema
  • 22

    Jul

    Aktifitas Perdagangan

    Perekonomian masyarakat Mekkah sangat mengandalkan perdagangan, terutama ke Syam di musim panas dan ke Yaman di musim dingin. Dalam surat Quraisy, al-Qur’an mengabadikan dan memuji aktifitas ekonomi mereka ini. Adalah Hasyim, kakek Nabi saw, yang pertama kali menggagas perjalanan-perjalanan dagang itu, lalu disusul oleh Abdus Syam, al-Muththalib, dan Naufal. Dengan keempat orang itu sebagai pelopornya, wajah perekonomian Mekkah pun berubah sehingga kesejahteraan masyarakat meningkat. Menarik untuk disimak bahwa perjalanan dagang itu diawali oleh keinginan mereka untuk mengakhiri tradisi i’tifaar, yaitu kebiasaan para pemimpin rumah tangga di Mekkah membawa seluruh keluarganya ke sebuah tempat tertentu saat mereka mengalami kesulitan pangan. Di tempat itu, mereka membangun kema
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post