• 9

    Sep

    Utamakan Selamat!

    Inspirasi menulis tentang keselamatan berkendara kembali muncul. Ini gara-gara peristiwa tidak mengenakkan sore tadi sepulangnya saya, bersama rombongan, dari Cisarua, Kabupaten Bogor: sebuah sepeda motor memotong jalur kami secara tiba-tiba dan, nyaris saja, terjadi tabrakan. Saya bersyukur sekali karena Yaser, adik bungsu saya yang bertindak sebagai sopir, mampu berkelit. Motor itu dan kami semua selamat. Namun, sumpah serapah, tidak urung, membuncah juga dari mulut adikku yang masih mudah emosional itu Di negeri kita ini, undang-undang yang mengatur masalah lalu lintas, termasuk peraturan berkendara, memang sudah ada. Namun, dalam prakteknya, berbagai ketentuan tertulis itu banyak yang tidak diindahkan. Saya tidak tahu mana yang lebih dominan di antara dua sebab yang paling banyak saya
  • 5

    Aug

    Pentas Kolosal

    Sebentar lagi, pada minggu terakhir ramadhan, kita akan menyaksikan sebuah pentas kolosal yang selalu berulang setiap tahun: MUDIK. Jutaan orang akan bergerak dan berpindah secara bersama-sama, untuk sementara, dari satu daerah ke daerah lainnya. Pergerakan manusia secara massal ini, umumnya, terjadi dari kota-kota besar, terutama Jakarta, ke kota-kota kecil atau daerah-daerah terpencil. Apakah kekuatan atau motif yang sanggup menggerakkan sekaligus jutaan orang ini? Kesadaran pentingnya menjaga silaturrahmi dan persaudaraan? Kegersangan jiwa selama hidup di tengah hiruk-pikuknya kota? Kepedulian sejarah? Pameran kemapanan ekonomi ke keluarga di kampung halaman? Semuanya mungkin. Setiap pelaku yang terlibat dalam pergerakan massal ini bisa saja memiliki motif yang berbeda-beda. Apapun m
  • 3

    Aug

    Tentang si Liong Bulan

    Bagi saya, kopi adalah minuman “wajib”. Saya tidak ingat pernah tidaknya saya melewatkan satu hari saja tanpa menyeruput kopi. Yang pasti adalah, dapur akan terasa kosong dan kepala akan terasa berputar-putar jika serbuk minuman ini habis. Di antara sekian banyak merk kopi, Cap Teko adalah merk yang pertama paling berkesan. Kopi ini sudah saya kenal sejak kecil karena ayah saya adalah penggemarnya. Setiap kali beliau meracik minuman itu, saya sering, diam-diam, mencicipinya. Karena seringnya mencicipi kopi yang rasanya mantap itu, maka jadilah saya penikmatnya pula. Entah karena sebab apa, Kopi Cap Teko mengalami penurunan mutu ketika saya dewasa. Rasanya menjadi jauh berbeda, tidak lagi mantap di lidah seperti selama ini dirasakan. Saya pun mulai mencoba berbagai merk kopi la
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post