• 3

    Jun

    Pulanglah

    Pulanglah dan mari urus rumah ini. Ia memang terlihat kusam dan tidak menyenangkan. Air hujanpun masih saja merembes dari sela genting-gentingnya sehingga pakaian kita seringkali basah. Namun, ia adalah anugerah meneduhkan dari alam yang disisipkannya ke sela belulang ketika kita lahir. Pulanglah dan mari urus rumah ini. Tanah di pekarangannya memang masih saja sulit untuk diolah agar benih-benih bunga dapat disemai, lalu bertumbuhan. Cangkul-cangkul patah itu adalah saksinya. Namun, suatu saat nanti, guyuran air bening yang bertumpahan tanpa henti dari ruang kesabaran akan menggemburkannya. Pulanglah dan mari urus rumah ini. Kamar-kamarnya memang terlihat sempit. Namun, lihatlah orang-orang itu yang justru dapat melakukan permainan apapun di dalamnya. Kelapangan jiwa merekalah yang melua
  • 29

    May

    Dalam Lipatan Waktu (3)

    Ya, semuanya memang sudah berubah Kamu ingat? Tak ada kepadatan orang di kampung kita ini, Bantarkemang, juga di sekelilingnya. Ke manapun pandangan disapukan, yang tampak adalah kotak-kotak persawahan warga, rimbunan batang-batang singkong, atau jejeran pepohonan pepaya. Kita sering mengendap-ngendap di bawah keteduhan daun-daun singkong itu. Biasanya, burung-burung puyuh suka bermain dan berlarian gesit di sana. Ingin sekali kita menangkap dan membawa mereka pulang, namun selalu saja gagal. Burung-burung yang tak mampu terbang itu selalu saja bisa menghindar. Gerakan tubuh-tubuh mungil mereka jauh lebih cepat. Ya, semuanya memang sudah berubah… Ingat si Katut? Kawan kita si pemarak (peracun ikan-ikan di kobakan sungai Ciliwung) ulung itu? Ngeliwet bersama di tepi Anak Sungai Cikea
  • 20

    May

    Dalam Lipatan Waktu (1)

    Ya, semuanya memang sudah berubah Kamu ingat? Saat senja, kita sering duduk bersama di pematang kebun ketela itu. Mata kita menatap ke sana, ke birunya langit, menyaksikan parade hening ribuan kalong besar yang entah kembali dari mana. Kita sering berkhayal: terbang bersama mereka mengarungi luasnya angkasa. Alangkah leganya bukan? Lalu, ketika mentari hanya tinggal menyisakan semburat jingganya yang semakin memudar, ibuku berbisik: Nak, kau harus sudah pulang sebelum maghrib. Jika tidak, makhluk-makhluk yang memadati angkasa itu akan membawamu serta ke sarangnya yang dingin dan gelap!. Kitapun takut, lalu berlarian pulang. Ya, semuanya memang sudah berubah… Kamu tahu? Kakekku, Elon Syujai, beberapa kali mengajakku turut serta: kenduri di kampung tetangga yang bera
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post