• 11

    Aug

    Ramadhanku 2

    Bedug besar di pojok mushalla kebanggaan kampung belumlah ditalu ketika puluhan obor itu mulai menyala. Pendaran cahayanya menerangi jalan setapak yang selalu lincin di musim penghujan. Para ibu dan anak-anak gadis mereka berjalan, beriringan, ke sana dengan tubuh-tubuh yang telah berbalut mukena. Aneka celotehan, riang, berhamburan; tentang waktu yang melipat diri sangat cepatnya, tentang menu-menu istimewa yang akan tersaji di meja-meja makan, dini hari nanti, tentang si fulan yang selalu gagal bangkit dari pembaringannya hingga pagi menjelang, dan entah tentang apa lagi. “Ambil sarungmu dan mari pergi ke mushalla kita. Ramadhan agung itu akan lebih kaurasakan kehadirannya di sana,” demikian ayahku, malam itu, berkata. Maka, kuraih kain lusuh yang menggantung di kastop ̵
  • 10

    Aug

    Ramadhanku 1

    Lembaran-lembaran kertas lusuhmu itu selalu saja mengisahkan, tanpa bosan, kerianganku bersama anak-anak kampung di tepi sungai Ciliwung, sehari sebelum engkau datang. Mentari masih mempertontonkan kegarangannya ketika kami, dengan telanjang dada, berlompatan tanpa ragu ke derasnya air, seraya memekik gembira. “Bersihkan tubuh-tubuh legam itu agar kalian tak malu menyambutnya!,” demikianlah orang-orang tua kami, tadi, berkata. Maka, kami pun duduk berjajar di bagian datar bebatuan cadas tepi sungai itu. Gumpalan sabut kelapa, yang kami kantongi sejak dari rumah, meluruhkan debu-debu lekat yang melumuri tubuh. Potongan-potongan genting di tepi-tepi halaman rumah pun, tadi, turut pula dibawa serta, segenggam atau dua. Kami berlomba menumbukinya hingga halus di sebongkah batu hit
  • 6

    Aug

    Djogjakarta; Sepotong Cerita

    Agaknya, inilah dia halaman putus itu; sebuah novel berjudul Merdeka Tanahku, Merdeka Negeriku yang ditulis oleh Purnawan Tjondronegoro. Buku terbitan tahun 1981 ini saya temukan kembali tanpa sengaja ketika melihat daftar koleksi buku tua yang dijual di sebuah toko buku online. Oh iya, ini tentang Djogjakarta, kota yang pernah saya tinggali selama saya menempuh pendidikan sarjana di tahun 1992-1996. Kota di mana Sri Sultan Hamengkubuwono X bertahta ini sudah saya kenal dengan baik, bahkan lekat dalam hati, sejak jauh sebelum saya sendiri pergi ke dan tinggal di sana. Mengapa demikian? Nah, ini yang saya sebut dengan halaman putus. Alkisah, setelah saya menyelesaikan pendidikan jenjang menengah atas di Pesantren Modern Daarul Uluum, Bogor, keluarga bertanya ke mana saya ingin mela

Author

Follow Me

Search

Recent Post